Rahasia Parenting dan Tahapan Mendidik Anak
Rahasia tahapan mendidik anak sesuai perkembangannya
Bayangkan saja ada berapa banyak pasangan keluarga yang sejak menikah mereka belum dikaruniai anak. Rumah terasa sepi dan hampa.
Siang malam mereka mengharapkan kehadiran seorang bayi mungil dalam keluarga mereka. Tiap hari mereka pergi ke dokter untuk konsultasi dan memeriksa kendala apa yang terjadi hingga bertahun-tahun belum dikaruniai momongan juga.
Tapi juga ada keluarga yang telah dikaruniai anak yang banyak. Anak masih kecil-kecil tapi sudah bertambah lagi adiknya. Tentu ini juga karunia dari Allah harus disyukuri, harus diambil hikmahnya. Harus yakin bahwa tambah anak tambah rezeki.
Nah ketika kita oleh Allah telah dikaruniai anak masalah tidak berhenti sampai di situ. Ada tanggung jawab tugas yang harus diemban oleh orang tua.
Bukan hanya membesarkan dan mencukupi semua kebutuhan sehari-hari. Ada tugas utama orangtua yang jauh lebih penting dari mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Apa tugas itu? Tidak lain tidak bukan, tugas itu adalah membekali anak dengan Teladan, pengetahuan dan pendidikan terbaik.
Pendidikan terbaik bukan sekolah favorit, bukan TK unggulan, bukan universitas bergengsi tetapi pendidikan terbaik adalah cinta kasih dan teladan nyata dan kasih sayang dari orangtua. Orang tua adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya.
Terutama seorang ibu. Ibu adalah madrasah pertama bagi putra-putrinya. Jika menghendaki lahir, tumbuh dan berkembang seorang putra putri yang cerdas berprestasi dan Gemilang maka semua harus dimulai dari rumah.
Jika orangtua ingin anaknya rajin belajar maka orangtua harus memberi contoh teladan belajar, membaca buku setiap hari di rumah.
Sebagai orangtua, kita tidak cukup hanya memerintahkan anak untuk belajar dan membaca sedangkan kita hanya menonton TV dan memegang HP setiap hari. Apa yang kita ucapkan beda dengan apa yang kita lakukan.
Anak melihat Apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Maka benar sekali pepatah mengatakan anak adalah cerminan dari orangtua.
Apakah tahapan mendidik anak yang baik dan benar itu?
Apakah ketika kita mendidik anak mulai usia 0 sampai dewasa, kita menggunakan sikap dan gaya mendidik yang sama saja? Kita menggunakan model mendidik yang itu-itu saja? Tentu saja tidak.
Ada tahapan-tahapan yang perlu kita terapkan dalam proses mendidik anak mulai dari nol hingga usia remaja. Tetapi tahapan-tahapan itu semua isi dan konten pendidikannya tidak sama.
Sebagai orangtua kita harus menyesuaikan pendidikan kita sesuai dengan usia dan karakter anak-anak. Yuk kita bahas satu persatu tahapan demi tahapan mendidik anak dengan memahami tahapan-tahapan mendidik anak dengan baik dan benar.
Tentu proses menjadi orangtua dalam membimbing anak-anak menuju prestasi yang gemilang seharusnya bukanlah sesuatu yang membosankan. Sebaliknya proses mendidik dan mengantarkan anak menjadi orang yang sukses adalah aktivitas yang sangat menyenangkan bagi orangtua.
Yuk, ayah bunda kita kaji satu persatu.
Mendidik anak usia 0-6 tahun perlakukan anak sebagai raja
Pada masa-masa ini tumbuh kembang anak akan mengalami masa tumbuh kembang yang sangat cepat, luar biasa. Masa tumbuh kembang ini bisa dibantu dengan rangsangan permainan dan alat permainan yang tepat.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai Teladan Kita telah menganjurkan kepada kita untuk selalu bersikap lemah lembut kepada anak-anak yang masih kecil. Terutama ketika mereka berusia 0 hingga 6 tahun, kita sangat dianjurkan untuk memanjakan dan memberikan kasih sayang yang berlebih dalam rangka merawat mereka dengan baik.
Tahukah bunda, membangun hubungan kedekatan emosional dengan anak merupakan salah satu pola pendidikan yang sangat baik di jaman modern ini.
Anak yang ada dalam rentang usia 0 sampai 6 tahun biasa disebut dengan zona merah. wow lampu merah? Bukan, zona merah ya bunda. Zona merah artinya rambu-rambu bagi kita orangtua untuk tidak cepat marah dan mengambil tindakan keras jika anak melakukan kesalahan di mata kita, orangtua.
Di masa masa anak berada di rentang usia ini, kita tidak boleh banyak melakukan larangan kepada mereka.
Kenapa memang? Iya, karena larangan kita ini akan sangat merusak jaringan sel otak anak setahap demi setahap. Dimana pada usia ini sel otak anak berkembang dengan sangat cepat tanpa ada hambatan sama sekali.
Sebagai orang tua kita harus selalu berusaha menjadikan anak merasa aman, tentram dan nyaman didekat kita. Bagaimana agar anak anak merasa terlindungi bersama kita.
Saat kita melihat anak nakal, kita tidak boleh memukulnya seketika. Biasanya kita memukulnya supaya dia mengikuti dan menuruti apa yang kita inginkan.
Padahal ya ayah bunda, anak-anak sebenarnya belum tahu yang baik dan yang buruk. Si kecil belum bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk. Mana yang boleh di kerjakan dan tidak boleh di kerjakan.
Anak anak biasanya mencontoh dan melihat apa yang terjadi sebelum dia melakukan uji coba dan percobaan yang menurutnya itu adalah sesuatu yang menarik.
Padahal, ayah bunda. Memukul dan memarahi anak pada rentang usia 0 sampai 6 tahun ini bukanlah cara yang tepat untuk pendidikan. Sebaliknya kita harus memberikan kesempatan kepada anak agar mereka merasa bahagia dan senang. Supaya mereka mendengarkan dan memeroleh masa-masa berkualitas di masa kecilnya.
Anak kecil usia 0 sampai 6 tahun itu ibarat seorang raja kita harus menuruti apa yang mereka inginkan dalam batas kewajaran kebaikan.
Mendidik anak usia 7 Hingga 14 tahun perlakukan anak sebagai tawanan perang
Pernahkah Ayah Bunda melihat tawanan perang? Walau kita belum pernah melihat perang di dunia nyata. Mungkin kita pernah melihat suatu peperangan yang ada di layar kaca. Semisal dalam film layar lebar atau dalam televisi.
Seorang tawanan perang dia akan diikat kuat-kuat, dibatasi gerak-geriknya, di batasi asupan makanan, segala aktivitasnya diawasi dan dikontrol, tidak bisa pergi ke mana mana tanpa penjagaan yang ketat.
Seorang tawanan perang tidak bisa seenaknya keluar masuk dari dalam sel tahanan dengan mudah semuanya sendiri. Saat si tawanan mau keluar sel tahanan, harus ada prosedur, harus mengikuti sop yang telah ditetapkan. Tidak seorangpun bisa membantunya untuk keluar dari penjara tanpa izin dan sepengetahuan pimpinan penjara dan sipir penjara.
Kebayang kan ayah bunda,
Ini adalah ilustrasi bunda, bagaimana gambaran kita sebagai orangtua memperlakukan anak kita saat mereka berada pada rentang usia 7 sampai 14 tahun.
Bukan berarti kita memperlakukan anak kita seperti tawanan dengan menghinakan dan merendahkannya, tidak! tidak sama sekali. Sebaliknya kita memperlakukan anak kita penuh dengan kasih sayang dan lemah lembut.
Bagaimana kita sebagai orang tua bisa bersikap tegas di satu sisi dan berlemah lembut di sisi yang lain. Bagaimana kita bisa membuat SOP yang jelas dihadapan anak-anak tanpa mengganggu kreativitas dan dunia bermain mereka.
Bagaimana kita bisa mengajak anak-anak disiplin dan menaati SOP yang telah dibuat bersama dan tanpa mengekang dan menekan jiwa mereka. Ini adalah tantangan besar bagi orangtua untuk mengantarkan anaknya menjadi anak yang sholeh sholehah, cerdas, rajin terampil dan bahagia.
Kita sebagai orangtua harus mulai memperkenalkan tanggung jawab dan disiplin pada anak-anak kita. Kita bisa melatihnya dari mulai memisahkan tempat tidurnya, mengajak mereka mendirikan salat lima waktu, memukul mereka ketika mereka menolak dan tidak mau menjalankan sholat.
Tentu bukan pukulan yang menyakitkan atau pukulan yang melukai tetapi pukulan yang membuat dia takut dan tidak mengulanginya lagi.
Kita juga bisa membuat sanksi sanksi jika anak anak melanggar SOP yang telah di buat bersama. Kita harus memastikan sanksi yang kita berikan harus sesuai dengan kesepakatan antara anak dan orangtua.
Jadi walau kita bersikap tegas dan disiplin, tidak berarti kita membuka medan perang dengan anak anak, tidak bunda. Kita perlu berusaha terus, gimana caranya anak anak bisa menjalankan semua yang telah kita sepakati bersama tanpa paksaan dan terpaksa.
Sebaliknya kita harus berfikir gimana caranya mereka bisa menjalankan semua SOP dengan perasaan senang dan riang gembira.
Masa-masa 7 sampai 14 tahun
Mulai dari mencuci piring, mencuci pakaian, menyetrika dan hal-hal yang terkait dengan dirinya sendiri. Mereka juga harus bisa menyiapkan buku pelajaran, mengerjakan PR.
Tahukah Ayah Bunda, bahwa pelajaran Mandiri ini akan bermanfaat besar bagi kecerdasan emosional anak-anak di masa yang akan datang.
Tentu bukan suatu yang mudah mengajak dan mendidik anak untuk disiplin dan mampu melakukan seluruh aktivitasnya secara mandiri. Tapi inilah tantangan kita terutama di era modern ini.
Orangtua harus selalu memberi arahan dan pendampingan dengan cara yang sabar kepada anak anak. Di mana semua ini merupakan PR besar yang harus dikerjakan dan dilakukan oleh orangtua dalam rangka untuk menggapai dan mencapai anak yang sholeh sholehah, cerdas dan berprestasi.
Di usia ini anak juga perlu mulai diperkenalkan dengan uang. Mengapa? Dengan paham dan megerti uang, anak akan mampu memperlakukan uang sesuai denan fungsinya. Pada masa inilah pendidikan finansial kepada anak harus diberikan secara serius.
Pada tahapan ini orangtua tidak bisa membiarkan anak memegang uang tanpa memahami arti uang, manfaat uang, cara memperoleh uang yang baik dan benar. Untuk apa anak mengetahui semuanya? Supaya anak kita mampu menghargai nilai uang yang diberikan oleh orangtuanya.
Kita harus mengenalkan dan mengajarkan kepada anak betapa sulitnya mencari uang. Kita perlu mengenalkan kepada anak bahwa uang itu tidak harus dihabiskan. Sebaliknya uang yang kita punya harus kita sisakan dan kita tabung dalam rangka untuk membangun investasi di masa yang akan datang.
Investasi ini bisa kita kembangkan lagi sehingga akan menjadi investasi yang jangka panjang yang luar biasa. Dimana dengan uang ini sedikit demi sedikit kita akan membangun kekayaan yang sesungguhnya. Jadi bukan hanya terliaht kaya tapi memang kaya sungguhan.
Mendidik anak usia 15 tahun hingga 21 tahun lakukan anak layaknya sebagai sahabat
Tahukah Bunda, bahwa anak yang masuk pada rentang usia 15 hingga 21 tahun ini biasanya mereka cenderung suka memberontak, menyalahi aturan tidak tertib, maunya sendiri, menang sendiri dan egois. Pernah ketemu kan?
Sebagai orang tua kita harus menyikapi hal ini dengan sabar dan kepala dingin.
Kita tidak boleh serta-merta merasa sebagai orangtuanya, kita marah dan kita memukulnya atau mengumpat dengan kata-kata yang kasar. Semua tidak akan menyelesaikan masalah, tidak akan membuat dia menjadi anak yang lebih baik.
Sebaliknya akan menyakiti hatinya dan akan menambah dia menjadi anak yang lebih berani memberontak terhadap apa yang kita perintahkan dan apa yang kita ajarkan.
Masa-masa usia ini biasa disebut dengan zona hijau. Apa artinya zona hijau?
Pada zona ini anak sudah mulai boleh berjalan sendiri. Kita sudah harus mulai memberikan kepercayaan kepada anak bahwa dia sudah mulai dewasa. Anak sudah bisa kita lepas secara mandiri.
Bahkan anak harus mulai menjadi duta keluarga, tetangga, saudara dan masyarakat secara luas. Citra dan gambaran anak yang ditampilkan keluar merupakan cerminan dari pola pendidikan yang diberikan oleh orang tua.
Semua tidak instan tapi sudah di mulai sejak usia 0 hingga remaja ini. Agar citra yang ditampilkan anak menjadi baik, kita harus memperhatikan pendidikan terbaik anak. Pendidikan mulai dari usia 0 hingga remaja ini.
Jadi tidak bisa kita ujug-ujug (tiba tiba) kita mendidik anak di usia remaja, kita mengabaikan usia balita dan usia pra remajanya.
Kita harus mulai memberikan rasa aman dan nyaman kepada anak. Bahkan kita sebagai orangtua harus mulai bisa bersikap layaknya sebagai seorang sahabat yang setia. Sahabat yang selalu siap mendengar curhatan dan cerita dari anak-anak kita. Gimana siap bunda?
Tahukah Bunda, bahwa masa-masa ini merupakan masa-masa pubertas bagi anak-anak. Jangan sampai ketika anak-anak kita punya masalah, mereka malah curhat dan mencari solusi keluar. Mereka malah curhat kepada teman dan orang lain.
Gimana kita tidak bisa memastikan kualitas orang yang diajak curhat oleh anak-anak kita. Jika orang yang diajak curhat anak kita adalah orang-orang yang baik, dewasa dan bijaksana tentu tidak ada masalah.
Ayah bunda,
Yang kita kuatirkan adalah apabila anak-anak kita curhat dan menceritakan masalahnya kepada orang yang tidak bertanggung jawab. Kita kuatir, dia akan menjerumuskan anak kita ke hal-hal yang negatif, ke pergaulan yang tidak baik yang tidak tidak sesuai dengan yang kita inginkan.
Sebagai orangtua, kita juga jangan pernah marah dan menghardik anak-anak kita dihadapan adik-adik atau kakak-kakaknya.
Mengapa tidak boleh? Agar anak-anak tidak merasa jatuh harga dirinya, tidak hancur hatinya, tidak sakit perasaannya karena merasa dipermalukan di hadapan adik dan kakak kakaknya.
Pada usia ini, uang merupakan kebutuhan yang nyata bagi anak-anak.
Boleh jadi mereka memang benar-benar sudah membutuhkan uang. Tak sedikit anak yang kreatif dan mampu menghasilkan uang sendiri di usianya yang masih belia. Tapi kita tidak boleh menuntutnya agar punya penghasilan sendiri.
Diantara para remaja ada yang menghasilkan uang melalui bekerja atau cara yang lain yang tentu tidak bertentangan dengan Syariat agama Islam.
Peran orangtua di fase-fase usia ini adalah sebatas sebagai pembimbing, memberi arahan dan nasihat. Orangtua juga memberikan kontrol dari jarak jauh, tidak boleh mengekor terus.
Orangtua bisa melakukan pengawasan yang intensif tanpa membatasi. Saat anak meminta uang, kita bisa memberinya sesuai dengan apa yang dia minta dengan alasan yang logis dan masuk akal. Begitu juga sebaliknya, jika alasan dia minta uang tidak logis dan tidak bisa diterima atau dibenarkan maka kita harus menolaknya dengan cara yang halus.
Pada prinsipnya kita perlu melakukan komunikasi yang intensif dan diskusi, duduk bersama dengan anak-anak tentang cara pengaturan keuangan pribadinya yang baik dan benar.
Seorang anak yang hebat, tentu lahir dari orangtua yang hebat dan peduli. Kita sebagai orangtua harus menjadi orangtua yang hebat jika kita menginginkan lahir anak yang cerdas dan berkualitas. Kita harus yakin semua akan terwujud dan menjadi kenyataan.
Seorang anak yang hebat dalam mengatur keuangan tentu dia lahir dari keluarga yang hebat pula dalam financial literacy.
Disitulah pelajaran pelajaran berharga yang bisa diberikan oleh orangtua kepada anak-anaknya. Di mana pelajaran ini kadang luput dan lupa diberikan oleh guru-guru di sekolahnya.
Semoga kita sebagai orangtua oleh Allah dikaruniai kesabaran dan kemauan untuk terus belajar agar kita bisa mengantarkan anak-anak menjadi anak yang Saleh Salehah, cerdas, berprestasi dan berkualitas.
By: Abidzar
Penulis buku "Menjadi Remaja Emas"





Belum ada Komentar untuk "Rahasia Parenting dan Tahapan Mendidik Anak"
Posting Komentar